TEMPO Interaktif, Jakarta: LelakiI muda itu dengan tekun mengelap sepeda berangka panjang di teras rumahnya di kawasan Kebayoran lama, Jakarta Selatan. Krim khusus tak lupa dioleskan ke velg sepeda beroda tiga itu. Sekejap saja, kereta angin itu terlihat cemerlang. Ritual ini dilakukan Haris Wirawan setiap bulan, menjelang dan setelah mengikuti pertemuan anggota komunitas Jakarta Street Lowrider.
Haris memang sangat hati-hati merawat
sepeda ceper kesayangannya itu. Maklum saja, kereta angin itu telah
menghabiskan dana tak kurang dari Rp 8 juta. Semula dia hanya membeli
kerangka sepeda tersebut dengan harga Rp 1,5 juta. Selanjutnya, secara
bertahap, dia membeli berbagai onderdil, seperti ban, velg, dan setang
khusus.
Berbagai aksesori lain ditambahkan,
seperti penutup pentil ban, rumbai-rumbai, serta kaca spion khas sepeda
motor Harley-Davidson. Aksesori itu dilengkapi dengan logo khas sepeda
lowrider, seperti orang tersenyum, mata dadu, atau angka delapan pada
bola biliar.
Selama tiga tahun ini, Haris membangun
sepedanya hingga benar-benar bisa disebut sepeda lowrider. Ciri fisik
sepeda ini jelas: memiliki setang yang tinggi (ape hanger) dan garpu
depan yang panjang sampai hampir menyentuh tanah. Adapun jok yang
dipakai adalah jok model pisang (banana seat) dengan sandaran (sissy
bar) dari besi. Kerangka sepeda biasanya menggunakan model pelangi
(rainbow bent frame).
Sebutan lowrider, kata Haris,
merujuk pada sistem gerakan dari sebuah kendaraan yang dibuat lebih
rendah dari ukuran normal. Tidak hanya sepeda yang punya jenis lowrider.
Alumnus Universitas Pancasila, Jakarta, ini menyebutkan, ”Mobil dan
sepeda motor yang dibuat lebih rendah dari ukuran normal juga disebut lowrider.”
Sepeda ceper yang kini kembali digemari di Tanah Air itu semula berasal dari Amerika Serikat. Pada 1960-an, ahli mobil lowrider,
George Barris, memperkenalkan sepeda ini kepada khalayak. Ketika itu,
mobil jenis yang sama tengah ngetren di sana. Sayang, hobi mobil hanya
bisa dijalani orang dewasa yang sudah punya surat izin mengemudi. Maka
Barris pun beralih ke sepeda. Dengan begitu, semua kalangan, termasuk
anak kecil, bisa merasakan sensasi lowrider.
Sepeda buatan Barris itu ternyata disambut meriah masyarakat di sana. Pabrik sepeda Schwinn kemudian mengeluarkan model sepeda lowrider
bernama New Cruiser Sting Ray pada 1964. Di Indonesia, sepeda ini
sempat populer pada 1980-an. Namun, lima tahun kemudian, sepeda BMX
muncul dan langsung menyingkirkan sepeda lowrider.
Setelah berselang 25 tahun, sepeda ceper
kembali naik daun. Awalnya, para pemakainya masih berpencar dan
menikmati sepeda tersebut sendiri-sendiri. Setahun kemudian, komunitas
sepeda mulai terbentuk di mana-mana, seiring dengan munculnya komunitas
penunggang sepeda lain seperti Bike to Work dan Komunitas Sepeda Onthel.
Beberapa penggemar sepeda lowrider sampai
memiliki lebih dari satu kereta angin ini. Haris, yang merupakan
koordinator Jakarta Street Lowrider, bahkan punya 12 sepeda lowrider dari
berbagai ukuran. Koleksinya sepeda dengan velg ukuran ring 12, 14, 16,
20, 24, dan 26 inci. Lima lainnya masih berupa kerangka, antara lain
sebuah sepeda merek Schwinn. Salah satunya dibeli di Madiun, Jawa Timur.
Ketika dibeli, sepeda Schwinn tersebut
telah berkarat. Beruntung, Haris tahu bengkel yang mampu memperbaiki dan
mengecatnya kembali hingga seperti baru. ”Nanti akan saya krom di
bengkel langganan saya,” kata pemilik usaha warung telekomunikasi di
Jalan Prapanca, Jakarta Selatan, ini.
Haris hanyalah satu dari ribuan penggemar sepeda lowrider. Tidak hanya di Jakarta, mereka tersebar ke berbagai penjuru Tanah Air. Mereka membentuk puluhan komunitas, seperti Jakarta Street Lowrider, IKPN Lowrider, Hell O Shorty Family, dan Sunset Riders di Jakarta. Di Bandung ada beberapa komunitas, seperti Slowrider, Pedal Power, Luxurious Lowrider, Heroes Bike, dan Flower City Rider. Selain itu, muncul pula Monkey Bike Lowrider Community di Medan dan Komunitas Low Rider Surabaya.
Para anggota komunitas ini tentu saja
begitu cinta atau bahkan bisa dibilang gila kepada sepeda lowrider. Dedy
Supanto, 26 tahun, misalnya, kini mengoleksi tiga sepeda. Dua di
antaranya bermerek Benny dan Schwinn yang memiliki velg dengan ring 20
inci. Satunya lagi, bermerek Cruiser, memiliki velg dengan ring 26 inci.
Yang paling mahal, kata desainer grafis penerbit Mizan ini, adalah
Schwinn buatan 1977. ”Udah habis lebih dari Rp 5 juta,” kata lelaki yang
akrab dipanggil Hedot ini.
Awalnya, Dedy memperoleh kerangka sepeda
itu dengan harga hanya Rp 100 ribu dari seorang anak kecil di Ciledug,
Tangerang, Banten. Lantaran sudah banyak karatnya, kerangka itu lalu
dibersihkan dan dicat ulang. Setelah itu, berbagai aksesori pun
ditambahkan. Dari semua onderdil dan aksesori, bagian paling mahal
adalah dua roda dan kerangka tambahan di belakang. ”Harganya sekitar Rp
2,4 juta,” ujar Dedy.
Tentu saja, ada juga penggemar yang hanya
memiliki satu sepeda siap pakai. Lilik Sapta, 27 tahun, misalnya. Dia
memang punya dua kerangka sepeda ceper lain. Tapi, kata pria yang biasa
dipanggil Ata ini, ”Masih nunggu duit untuk bisa dibangun.” Lilik
biasanya memperoleh informasi tempat membangun sepeda ceper saat
pertemuan para anggota komunitas lowrider. Terutama, kata Haris, tempat untuk memperoleh onderdil yang tergolong langka.
Penggemar sepeda lowrider
biasanya tidak pernah mengadakan acara mengayuh pedal untuk jarak yang
sangat jauh, apalagi bersepeda hingga ke daerah yang sulit seperti tepi
pantai atau lereng gunung. Soalnya, kata Haris, ”terus terang saja,
enggak nyaman naik sepeda begini lama-lama.” Maklum, fungsi alat
transportasi ini bisa dibilang lebih untuk bergaya. Tak berlebihan bila
sebagian dari mereka menyebut sepeda lowrider sebagai show bike. Mereka pun seperti berlomba memodifikasi sepedanya agar tetap bergaya.
Tingginya minat pemilik untuk memodifikasi sepeda ceper membuat para perakit sepeda (builder)
lokal pun mereguk untung. Kendati belakangan sepeda jenis ini mulai
bisa dibeli di beberapa toko secara lengkap, mereka tetap saja
kebanjiran order.
Ya, para pencinta sepeda ini tetap
memesan sendiri onderdil kepada pembuat sepeda. Bagi mereka, bentuk
sepeda yang dijual utuh di toko sangat standar, kurang gaya. ”Kalau
pesan, bisa memilih model semaunya sendiri,” kata Yudi Kartono, 37
tahun, salah satu perakit sepeda lowrider.
Yudi lantas mencontohkan kegilaan penggemar pada sepeda lowrider jenis twist alias
melintir. Sebagian besar besi sepeda itu dibuat dari besi melintir.
Tidak hanya kerangka, setang, atau jeruji, tapi juga jok dan
sandarannya. Jangan salah, semua bagian itu dibuat dari lempengan besi,
termasuk untuk setang.
Lempengan setebal empat milimeter itu
dipotong, lalu dipelintir dan ditekuk, hingga menjadi setang sesuai
dengan minat pemesan. ”Setelah itu, baru dikrom,” kata Yudi, yang
membuka bengkel di Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan, sejak 2005.
Sepeda lowrider twist, kata
Yudi, memiliki tingkat kerumitan tinggi. Tak aneh bila proses
pembuatannya juga jauh lebih lama. Dalam sebulan Yudi mampu membuat tiga
sepeda lowrider biasa, tapi untuk jenis sepeda melintir
paling-paling dia hanya bisa menyelesaikan dua sepeda. Wajar pula kalau
harga sepeda jenis ini mencapai Rp 6 juta. Padahal, jika bentuk besinya
standar, sepeda rakitan itu bisa dilepas dengan harga sekitar Rp 2 juta
saja. Wah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar