Jumat, 24 Februari 2012

01. Susuri Sudut Kota dengan Laju “Low Rider”

 

SEJUMLAH sepeda berbentuk unik berjejer di pelataran aspal. Keunikan itu terlihat dari bentuk dan struktur frame, setang, sandaran, hingga joknya. Tak pelak lagi, sepeda bukan sekadar alat olah raga atau alat transportasi semata, namun bisa juga untuk bergaya.
Itulah pemandangan yang terlihat di sekitar Balai Kota Bandung setiap Minggu pagi. Sekelompok anak muda yang meminati sepeda jenis low rider biasa berkumpul di sana, untuk bersilaturahmi, sharing modifikasi sepeda, atau sekadar mengayuh sepedanya mengitari Balai Kota. Kenal lebih dekat, yuk!
Dituturkan salah seorang pegiatnya, Sapto Aji yang akrab disapa Aji, mereka yang kerap berkumpul tersebut berasal dari berbagai komunitas low rider di Bandung, Lembang, hingga Banjaran. Tercatat ada Slow Rider, Pedal Power, Luxurious, Rollerz, Highlander, dsb. Tongkrongan di Balai Kota itu bermula dari berdirinya komunitas Cruisers Van Java yang diinisiasi antara lain oleh Ade Dewanto dan Rinaldy, sekitar akhir tahun 2006. Cruisers Van Java yang kemudian berganti nama menjadi Flower City Rider itu sempat meraup cukup banyak peminat low rider di Bandung hingga belakangan kegiatan organisasinya meredup sebab para pegiatnya diterpa beragam kesibukan.
“Sekarang mau diaktifin lagi, soalnya sayang kan udah ada tempatnya. Untuk sementara belum pakai nama khusus lagi, jadinya siapa aja dan dari komunitas mana aja bisa gabung karena sifatnya cair,” kata Aji ketika ditemui Kampus, Minggu (24/8).
Istilah low rider sendiri muncul sebab pengendara sepeda ini duduk di sadel yang lebih rendah atau ceper dibandingkan dengan sepeda lain. Omong-omong tentang ciri khas sepeda low rider, biasanya terdiri atas fork depan springer model bengkok (bent springer fork), setang model menggantung (apehanger handlebar), rangka model pelangi (rainbow bent frame), jok pisang (banana seat), dan besi sandaran jok (sissy bar), sementara yang lainnya bisa dikostumisasi lagi.
Dengan tujuan bersenang-senang dan semakin memopulerkan keberadaan sepeda low rider, Aji kerap menggelar jalan-jalan keliling kota pada malam hari (night riding) setiap hari Kamis, mulai dari Gedung Merdeka hingga sekitar Jalan Dago. “Tujuannya untuk mengenalkan sepeda low rider pada masyarakat, sekalian wisata kuliner malam hari,” kata Aji sambil terkekeh.
Joey dari Luxurious, menceritakan ketertarikannya pada sepeda low rider dimulai sejak tahun 1994, berkat video-video klip yang memperlihatkan betapa kerennya mobil dan sepeda low rider. “Kalau mobil kan enggak kuat membiayainya, makanya pilih sepeda aja,” kata Joey seraya tertawa. Latar belakang menggemari sepeda low rider memang bermacam-macam. Contohnya Aji yang berasal dari R2 Racing Team, komunitas penggemar motor dan mobil balap. “Memang dasarnya senang modifikasi. Habis mobil, motor, ya terus sepeda deh,” kata Aji.
Para pesepeda low rider memang tidak menganggap sepedanya sekadar sebagai alat transportasi, namun juga sebuah karya seni. “Kita bisa mengekspresikan diri melalui tiap detail modifikasi, pokoknya serulah,” ucap Aji yang juga kerap ikut lomba kreasi sepeda low rider. Menurut dia, keikutsertaan dalam kontes-kontes tersebut merangsang ia dan kawan-kawannya berpikir keras membuat kreasi terbaru.
Salah satu sepeda low rider milik Aji yang berjenis chopper, dipasangi roda berukuran sangat besar yang biasa digunakan mobil arena balap hingga membuat bentuknya menjadi unik. Aji sendiri memiliki belasan sepeda low rider dengan biaya modifikasi mulai dari Rp 2 juta hingga puluhan juta rupiah. Modifikasi itu tak jarang butuh merogoh kocek dalam-dalam, namun itu bukan masalah dibandingkan dengan kesenangan proses merakit sepeda idaman.

“Modifikasinya memang bisa macam-macam. Ada yang menghias bondo (tangki)-nya pakai airbrush, setangnya dibuat melingkar (twist), bahkan ada yang jari-jarinya dilapisi emas hingga 18 karat (gold plate)! Tapi bisa juga dibuat lebih murah dengan merakit sendiri,” ujar Joey.
Kegemaran sepeda gaya ini ternyata dijadikan pula sebagai salah satu kampanye pengurangan jumlah kendaraan bermotor. “Saya ada kendaraan lain, tapi kadang lebih enak pakai sepeda. Hemat energi dan ramah lingkungan,” kata Joey. “Ke depannya semoga komunitas low rider bisa lebih solid menjalin kebersamaan dan ikut mempromosikan gaya hidup sebagai environmentalist,” ujar Aji menuturkan harapannya. So, let’s roll the bike and rock the street! ***
dewi irma
kampus_pr@yahoo.com
————————————————————————————————
02. 80% Fesyen, 20% Fungsi
JAKARTA adalah kota yang sangat sensitif terhadap tren kultur fesyen terbaru. Dari mulai antre untuk donat sampai kopi yang dihargai terlalu mahal, warga Ibu Kota menunjukkan antusiasme mereka mengenal berbagai ‘artifak’ kultur.
Yang terbaru, ada sepeda lowrider. Tidak seperti sepeda pada umumnya, lowrider memiliki ukuran lebih kecil, hampir setinggi sepeda anak-anak, dan kaya modifikasi.
Ceritanya berawal di AS. Lowrider menjadi budaya kaum urban. Pengikut utamanya terutama kaum Hispanik yang tidak mampu memodifikasi mobil atau motor sehingga akhirnya mereka mencoba memodifikasi sepeda. Kultur modifikasi mobil di kalangan keturunan Hispanik sebenarnya juga cukup kuat.
Di Jakarta, setiap Sabtu malam di salah satu sudut Taman Menteng yang bersebelahan dengan Hotel Formula 1, sepeda lowrider tampak menjadi salah satu aktivitas kaum urban Jakarta. Bukan hanya Los Angeles.
“Di Amerika, tadinya ini sepeda mini untuk anak-anak, terus dimodifikasi dan berkembang hingga saat ini. Dan sampailah ke Indonesia. Kebanyakan yang masuk Indonesia itu buatan Jepang, tetapi ada juga yang dari Amerika dan Inggris,” kata Gandung.
Gandung yang sehari-harinya berprofesi sebagai desainer grafis itu adalah salah seorang pencetus komunitas sepeda lowrider dengan nama Sunset Riders.
Komunitas itulah yang setiap Sabtu malam berkumpul di pojok Taman Menteng. Pada sebuah Sabtu malam, seusai pertunjukan pantomim dari salah satu pusat kebudayaan asing di Jakarta, deretan sepeda ‘mini’ yang diparkir itu pun menarik perhatian kerumunan. Sepeda-sepeda itu jadi objek jepretan kamera digital.
Sunset Riders baru muncul sekitar akhir 2004. “Kini, anggotanya 30-an orang. Tadinya kami hanya punya anggota tiga orang, jalan bareng, terus ngobrol dengan yang lain akhirnya pengen bikin sepeda juga, ketemu orang lagi yang punya sepeda, terus ngumpul. Tadinya kami ngumpul di Taman Suropati terus pindah ke Taman Menteng. Karena sepeda ini tidak bisa dibawa jalan jauh, jadi kumpulnya cuma di daerah kami saja. Yang di selatan ngumpul di daerah selatan dan seterusnya,” kata Gandung.
Pusat perhatian
Penggemarnya pun datang dari beragam latar, anak sekolah sampai eksekutif muda. Ini berbeda dengan negara asalnya yang menjadikan sepeda lowrider sebagai subkultur antikemapanan.
“Karena bisa dibilang sepeda ini tidak murah. Untuk modifikasi satu sepeda ini minimal punya uang Rp2 juta. Kita beli per satuan mulai dari batangannya, ban, pelek, terus finishing-nya dikrom. Itu kan mahal, bisa sampai Rp4 juta. Catnya saja ada yang sampai Rp2 juta,” jelas Gandung.
Lowrider sebenarnya bukan kendaraan nyaman. Justru jauh dari nyaman. Namun, Gandung mengaku ada nilai lain yang membuat memakai sepeda ini tetap terasa nyaman. “Kenyamanannya malah dari orang yang melihat sepeda kami, kalau dilihat orang kemudian dinilai bagus, itulah yang bikin kita nyaman,” katanya.
Jadi, sebagian lain memang urusan citra dan pencitraan. Penggunanya akan merasa bangga jika mengendarai sepeda ini. Karena bentuk sepedanya unik membuat pengendaranya menjadi pusat perhatian. “Saya bilang ini 80% fesyen, 20% fungsi,” kata Gandung.
Kontes sepeda ini pun didasarkan pada sisi estetika, bukan dari ketangkasan. Untuk sepeda yang bergaya klasik orisinal, dilihat dari fork depan, sadel, setang dan rangkanya yang kecil menyerupai sepeda untuk anak. Yang custom, bentuknya menyerupai motor Harley atau biasa disebut chopper dengan rangka yang panjang dan setang tinggi.
Gandung sendiri mengawali kecintaannya pada sepeda lowrider lewat kanal MTV. Ada sebuah video musik hip hop yang menampilkan sepeda lowrider.
“Dari yang tadinya saya niat pengen bikin sendiri, berburu sampai punya sepeda, prosesnya cukup lama. Dari pertama nonton sampai punya, kira-kira dua tahunan,” kata Gandung.
Untuk membangun sebuah sepeda diawali dengan rangka. Inilah yang membuat Gandung kesulitan sampai harus mencari ke daerah-daerah terpencil di Jakarta. “Awalnya tidak tahu harus cari ke mana, kita melihat batangannya seperti sepeda jaman dulu, terus kita hunting. Untuk mendapatkan batangannya, kita sampai harus ngejar anak kecil dan tukang es batu karena dia pakai sepeda yang punya batangan asli,” ungkapnya. Tapi sekarang impor aksesori dan batangan sepeda sudah relatif lebih mudah ditemukan.
Yanto, seorang modifikator lowrider, mengatakan untuk modifikasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Modalnya tergantung dari variasi, paling rendah Rp4 juta-Rp5 jutaan. Bisa Rp10 jutaan untuk ikut kontes, yang mahal itu aksesorinya,” ujarnya.
Selama ini Yanto sudah membuat sekitar 30 sepeda modifikasi. “Kalau dari pengerjaan, kami memiliki kepuasan tersendiri. Kami kerjakan sendiri, kami pakai sendiri. Jadi, tidak seperti sepeda yang beli di toko bisa langsung dipakai,” katanya. *
————————————————————————————————
03. UrbanFest 2008: Memburu Sepeda Antik
Jumat, 27 Juni 2008 | 00:06 WIB
JAKARTA, KAMIS – Sepeda ceper dan unik itu, Rabu (25/6) siang, tersandar di dinding sebuah kafe di Ancol, Jakarta. Ia bagai magnit.
Bayangkan, puluhan pasang mata memelototinya, berlama-lama. Walaupun ada sejumlah perempuan rancak, dengan dandanan serba unik di kafe tersebut, penampilan sepeda tersebut membuat tetamu kafe lebih tergoda.
Tinggi sepeda bercat biru dan cokelat itu hanya sebatas lutut. Namun, stangnya yang terbuat dari baja berpilin antikarat setinggi pinggang. Tempat duduknya bewarna putih agak panjang, dengan roda serep di belakang. Ada pula dua boneka dadu bebas menggelantung. Penampilan sekilas bagai motor besar.
Sebuah pelariankah? Karena tak mampu beli motor besar lalu mengutak-atik sepeda seperti motor besar? Pertanyaan itu sempat terlontar di acara Konferensi Pers UrbanFest 2008, Rabu lalu.
Namun, Gandung, salah seorang penggemar sepeda unik itu menjawabnya dengan enteng, “Malah ada pemilik sepeda unik atau low rider ini yang memiliki motor HD”.
Sepeda ceper yang mencuri perhatian banyak orang itu, sering disebut sebagai sepeda alternatif, sepeda modifikasi, dan atau low rider. Sepeda unik tersebut menjadi salah satu materi kegiatan yang dikompetisikan dalam pagelaran budaya UrbanFest 2008, yang berlangsung 28-29 Juni di Pantai Carnaval Ancol.
Ketua Panita Penyelenggara UrbanFest 2008, Nugroho Ferry Yudho mengatakan, kompetisi lowrider yang bertajuk Urban Lowrider Contest meliputi enam kategori, yaitu kelas original/restorasi ke di bawah 20 persen (mengalami modifikasi ke arah originalnya/bentuk aslinya), kelas custom modification kecil dari 20 persen (mengalami modifikasi custom), kelas original dengan restorasi di besar dari 20 persen, kelas custom modification besar dari 20 persen. Kemudian ada kelas free for all (best of the best) dengan sepeda lowrider ukuran bebas dan kelas chopper bike dengan modifikasi bebas.
Display sepeda juga bisa menentukan. Karena itu, posisi sepeda sangat dianjurkan ditata dengan baik dan menarik. Karena akan menambah penampilan total keseluruhan akan menarik ditonton, difoto, dinilai oleh pengunjung dan juru,” kata Nugroho.
Tentang sepeda lowrider ini, Gandung yang merupakan salah seorang dedengkot sepeda lowrider mengatakan, penyuka lowrider ini paling banyak di Jakarta. Ada komunitasnya, apakah itu di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan wilayah lainnya.
“Kominitas sepeda lowrider ini setiap malam Minggu berkumpul di Taman Menteng, untuk diskusi dan saling tukar informasi. Kemudian, setelah bus way tidak dioperasikan lagi, penggemar sepeda lowrider keliling kota di jalur bus way mulai dari Taman Menteng, Bundaran HI, dan Monas,” paparnya.
Menurut Gandung, ada lebih 100 orang penyuka sepeda low rider. Setiap anggota komunitas mempunyai 2-4 sepeda lowrider. Sedangkan yang ikut kontes sepeda lowrider sedikitnya 50 sepeda. Masing-masing punya keunikan dan daya tarik tersendiri.
Keberadan komunitas sepeda lowrider ini, lanjut Gandung, sudah ada sejak 2004. Para penggemar kadang berburu sepeda mini antik jika berada di suatu daerah. Bahkan, jika ketemu di jalan, langsung ditawar. “Umumnya sepeda lowrider jenis sepeda mini keluaran tahun 1970-an. Sebab, kalau sepeda tipe keluaran sekarang, tak bisa dibentuk jadi sepeda lowrider. Batangan sepeda sekarang tidak kuat,” tandasnya.
” Untuk modifikasi sedikitnya menghabiskan dana Rp2 juta. Sepeda lowrider umumnya, 80 persen fungsinya sudah berubah. Lebih banyak sepeda unik ini untuk pajangan saja. Ada banyak sepeda lowrider yang dibeli orang lain yang berminat, ada juga yang dipakai untuk pembuatan iklan fashion,” tambah Gandung.
Kontes lowrider ini merupakan satu dari 21 jenis kegiatan di UrbanFest 2008 yang digelar secara kolaborasi oleh Kompas-Gramedia, Ancol, Radio Prambors, Institut Kesenian Jakarta, dan MetroTV. (YURNALDI)
————————————————————————————————
04. SEPEDA LOW RIDER
Si Kontet yang Makin Dicari
Punya bentuk unik dan makin dicari. Ada dua pilihan mendapatkannya. Gerilya bagian satu per satu, atau membelinya utuh. Tetapi, kendala mengendarai justru menjadi halangan utama. Kenalan yuk sama sepeda “low rider”.
Sepeda itu lebih cocok dipakai anak kecil dibandingkan orang dewasa. Ukurannya mungil dan berbentuk enggak seperti sepeda biasa. Tampilannya semarak. Rangkanya dicat meriah, bahkan ada yang di-chrome dengan finishing perak mengilat, atau emas yang kinclong.
Setang sepedanya pun dibikin ala motor gede, dengan style choopper (itu lho setang motor yang tegak ke atas hingga kala mengendarainya posisi tangan hampir tegak lurus ke atas). Bahan untuk membuat setang sepedanya pun bukan dari besi biasa. Rantai kapal, sampai besi tempa untuk bahan dasar pagar rumah bisa dijadikan aksesori sepeda.
Semua sepeda “ajaib” itu terjejer rapi di halaman rumah Beri, di kawasan Pondok Indah. Siang itu bareng seorang kawannya, Rezi, keduanya lagi asyik berdiskusi tentang keempat sepeda yang mereka bangun sendiri.
“Gue sih sudah lama banget pengin punya sepeda kayak gini,” beber Beri. Maklum sepeda yang kental dengan gaya hidup orang kulit hitam di Amrik itu punya bentuk yang seru.
“Biasanya sepeda jenis ini yang memakai anak geng kulit bewarna di Amerika,” jelas Rezi.
Tren yang sudah ada dari zaman dulu itu makin naik seiring dengan seringnya video klip yang kental nuansa hip hop atau punk-nya diputer di televisi. Macam video klip Anthem-nya Good Charlote, atau malah Muka Tebal-nya Superman Is Dead. Enggak heran kalau sepeda seperti ini selalu dikaitkan dengan komunitas kulit berwarna di Amerika.
Sayangnya, buat memiliki sepeda ini susahnya minta ampun. Enggak ada satu toko sepeda pun di Indonesia yang menjual sepeda jenis ini. “Waktu gue lagi di Amerika, gue enggak menemukan toko yang menjual sepeda seperti ini,” ungkap Beri.
Sesampainya di Indonesia, Beri juga harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Tapi, niatnya itu terwujud ketika tiga bulan lalu seorang kawan menawarkan sebuah rangka sepeda zaman dulu. “Gue pikir bisa nih dijadiin sepeda low rider (sebutan karib si sepeda kontet),” cetusnya lagi.
Mulai deh hari dan kehidupannya (duh segitunya) dihabiskan untuk memenuhi impiannya sejak dulu. Aksesori tambahan yang enggak dijual di Indonesia dibikin secara prakarya olehnya. “Setangnya gue pakai rantai kapal. Gue las listrik dulu, baru gue finishing chrome,” tukas Beri lagi. Sekitar empat minggu dia habiskan waktu untuk membangun sepeda impiannya. “Kalau sudah tahu apa yang kita mau, pasti gampang sih. Soalnya sudah kebayang inginnya seperti apa,” tambah Beri.
Order
Bak seniman yang habis menyelesaikan karyanya. Beri pun melakukan “pameran” kecil-kecilan. Apalagi kalau bukan mengendarai sepeda kontetnya keliling daerah rumahnya. Ternyata ada yang melihat aksinya keliling kompleks. Sesampainya di rumah, beberapa kawannya menelepon dan meminta dibuatkan sepeda seperti miliknya. “Mulai deh gue kebanjiran order buat bikin sepeda seperti ini,” kenang Beri.
Toh order yang datang kepada dirinya enggak bisa begitu saja dikerjakan. “Banyak yang datang ke gue, tapi belum tau mau dibikin apa sepedanya. Gue kasih masukan pasti ada saja yang kurang. Utamanya sih masalah dana,” tukasnya cuek. “Tapi, berhubung yang datang ke gue teman-teman gue juga, enggak mungkin gue tolak,” akunya lagi.
Kalau kita tertarik, sebenarnya ada dua cara yang bisa kita lakukan untuk mengoleksi si kontet ini. Pertama, cara gerilya macam yang dilakukan Beri. Hunting satu per satu sampai semua parts lengkap.
“Gue beli semuanya satu per satu. Rangkanya gue hunting sendiri,” ungkapnya. Maklum rangka sepeda low rider biasanya menggunakan “bangkai” sepeda kuno. Tahu sendiri dong barangnya enggak mungkin dicari di toko sepeda. “Kalau yang lain sih gampang. Ban sama velg biasanya masih ada yang jual,” ujarnya lagi.
Cara kedua, cara instan seperti yang dilakukan Rezi. Alih-alih hunting ke tukang loak, nih cowok langsung membeli di negara pusatnya sepeda low rider, Amerika. “Kebetulan pas gue ke sana dan ada uang sisa ya sudah gue beli aja yang sudah jadi,” jelas cowok yang hobi memakai kacamata ini.
Maklum, di Amerika pasar sepeda seperti ini sudah jelas. Jadi, toko yang menjual sepeda utuh dan aksesorinya juga bejibun. “Gue beli utuh mereknya Low Rider sekitar 300-an dollar,” ungkap Rezi.
Capek
Lambat laun komunitas—yang lebih suka disebut Beri sebagai habitat—mulai terbentuk. Dari hanya sendirian, kini Beri punya sekitar lima orang teman untuk diajaknya berkeliling dengan si kontet.
Toh dari semua keasyikan membangun si kontet, ada satu kendala yang enggak Beri suka. Berhubung sepeda ini didesain sangat pendek, mau enggak mau mengayuh pedalnya memang agak ribet. “Kalau sudah ketemu tanjakan malas banget rasanya. Jadi, gue enggak pernah main jauh-jauh. Paling sekitaran rumah,” tukas Beri.
“Soalnya, kalau di Amerika sendiri, nih sepeda memang bukan didesain untuk dikayuh, melainkan didayung menggunakan kaki. Karena negro-negro di Amerika menggunakan sepeda ini hanya di seputaran blok rumah mereka,” tambah Rezi lagi.
Selain Beri, masih ada beberapa kelompok lain yang hobi mendandani sepeda low rider seperti ini. “Biasanya mereka nongkrong di Circle K Jalan KH Ahmad Dahlan. Mereka serius bener. Soalnya sepeda itu memang dipakai jalan,” jelas Beri.
Atau malah di Bandung. Komunitas streetball yang ada di sana cukup akrab dengan komunitas sepeda low rider. “Biasanya kami ngumpulnya setiap hari Rabu malam. Gabung sama anak-anak break dance dan streetball,” beber Insane dedengkot streetball dari tim Future asal Bandung.
Dengan bentuknya yang unik, sepeda seperti ini memang asyik untuk dikoleksi. Tinggal pilih caranya, mau yang instan apa yang gerilya? Pilihan ada di tangan kita.
ADHITYASWARA NUSWANDANA Tim MUDA
————————————————————————————————
05. SEPEDA LOWRIDER, TAK SEKADAR LIFE STYLE
(09 Mar 2008, 292 x)
SATU lagi tren sepeda baru merambah kawula muda di Makassar. Apa itu? Yup, apa lagi kalau bukan lowrider, salah satu jenis sepeda dengan model unik. Begitu berbeda dengan model-model sepeda sebelumnya yang sempat booming, beberapa tahun belakangan.
Lowrider jauh dari kesan modern dan sporty. Sepeda jenis ini justru lebih mirip sepeda tradisional onthel, namun terlihat lebih elegan. Meski modelnya agak konvensional, namun jenis sepeda yang satu ini ternyata lumayan digandrungi kalangan anak muda loh.
Beberapa remaja di Makassar yang sudah memiliki lowrider mengaku tidak risih menggunakan lowrider di tengah semakin metropolitannya Kota Makassar. Sebaliknya, lowrider justru dianggap sebagai suatu life style baru yang punya banyak manfaat.
Awi, misalnya. Cowok yang memiliki model rambur agak gondrong mengatakan, kehadiran lowrider memberi tawaran bersepeda yang tidak lagi sekadar untuk berolahraga dan mejeng di jalan. “Dengan memakai lowrider, termasuk sebagai kendaraan hang out atau pun untuk ke tempat kerja, saya merasa mendapatkan tambahan rasa percaya diri. Soalnya, kita merasa beda aja gitu sama yang lain. Lowrider lebih berkarakter,” ujar Awi, Jumat, 7 Maret.
Tak jauh berbeda dengan Izul, seorang penggemar lowrider. Ia mengaku sudah cinta mati dengan jenis sepeda itu. Izul bahkan punya keinginan agar para pecinta lowrider menjamur di Makassar, dan bisa segera punya komunitas. “Kalau sudah ada komunitas, demam lowrider pasti akan lebih mewabah lagi,” ucap Izul.
Yang tak kalah penting, katanya, kita bisa bergaya namun juga tetap bersahabat dengan lingkungan. Seperti yang dituturkan Izul, jika lowrider sudah banyak diminati, banyak manfaat yang bisa dipetik. “Yang pasti, tingkat polusi di kota ini pasti bisa ditekan. Paling tidak, para anak muda seperti kita ini bisa sedikit berperan memperlambat global warming,” tuturnya.
Saat ini, lowrider memang belum terlalu booming di Kota Daeng. Masih kalah dibanding Jakarta dan Bandung. Menurut Awi, di dua kota tersebut, lowrider sudah benar-benar digilai, khususnya bagi mereka yang masih berusia remaja.
Namun, bagi mereka yang penasaran dengan sepeda ini, di beberapa toko sepeda di Makassar, lowrider sudah bisa ditemui loh. Hanya saja, harganya memang lumayan bisa bikin kantong menipis. Lowrider dilepas ke pasaran dengan harga minimal Rp2 juta. (imam dzulkifli)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar