01. Susuri Sudut Kota dengan Laju “Low Rider”
SEJUMLAH sepeda berbentuk unik berjejer
di pelataran aspal. Keunikan itu terlihat dari bentuk dan struktur
frame, setang, sandaran, hingga joknya. Tak pelak lagi, sepeda bukan
sekadar alat olah raga atau alat transportasi semata, namun bisa juga
untuk bergaya.
Itulah pemandangan yang terlihat di
sekitar Balai Kota Bandung setiap Minggu pagi. Sekelompok anak muda yang
meminati sepeda jenis low rider biasa berkumpul di sana, untuk
bersilaturahmi, sharing modifikasi sepeda, atau sekadar mengayuh
sepedanya mengitari Balai Kota. Kenal lebih dekat, yuk!
Dituturkan salah seorang pegiatnya, Sapto
Aji yang akrab disapa Aji, mereka yang kerap berkumpul tersebut berasal
dari berbagai komunitas low rider di Bandung, Lembang, hingga Banjaran.
Tercatat ada Slow Rider, Pedal Power, Luxurious, Rollerz, Highlander,
dsb. Tongkrongan di Balai Kota itu bermula dari berdirinya komunitas
Cruisers Van Java yang diinisiasi antara lain oleh Ade Dewanto dan
Rinaldy, sekitar akhir tahun 2006. Cruisers Van Java yang kemudian
berganti nama menjadi Flower City Rider itu sempat meraup cukup banyak
peminat low rider di Bandung hingga belakangan kegiatan organisasinya
meredup sebab para pegiatnya diterpa beragam kesibukan.
“Sekarang mau diaktifin lagi, soalnya
sayang kan udah ada tempatnya. Untuk sementara belum pakai nama khusus
lagi, jadinya siapa aja dan dari komunitas mana aja bisa gabung karena
sifatnya cair,” kata Aji ketika ditemui Kampus, Minggu (24/8).
Istilah low rider sendiri muncul sebab
pengendara sepeda ini duduk di sadel yang lebih rendah atau ceper
dibandingkan dengan sepeda lain. Omong-omong tentang ciri khas sepeda
low rider, biasanya terdiri atas fork depan springer model bengkok (bent
springer fork), setang model menggantung (apehanger handlebar), rangka
model pelangi (rainbow bent frame), jok pisang (banana seat), dan besi
sandaran jok (sissy bar), sementara yang lainnya bisa dikostumisasi
lagi.
Dengan tujuan bersenang-senang dan
semakin memopulerkan keberadaan sepeda low rider, Aji kerap menggelar
jalan-jalan keliling kota pada malam hari (night riding) setiap hari
Kamis, mulai dari Gedung Merdeka hingga sekitar Jalan Dago. “Tujuannya
untuk mengenalkan sepeda low rider pada masyarakat, sekalian wisata
kuliner malam hari,” kata Aji sambil terkekeh.
Joey dari Luxurious, menceritakan
ketertarikannya pada sepeda low rider dimulai sejak tahun 1994, berkat
video-video klip yang memperlihatkan betapa kerennya mobil dan sepeda
low rider. “Kalau mobil kan enggak kuat membiayainya, makanya pilih
sepeda aja,” kata Joey seraya tertawa. Latar belakang menggemari sepeda
low rider memang bermacam-macam. Contohnya Aji yang berasal dari R2
Racing Team, komunitas penggemar motor dan mobil balap. “Memang dasarnya
senang modifikasi. Habis mobil, motor, ya terus sepeda deh,” kata Aji.
Para pesepeda low rider memang tidak
menganggap sepedanya sekadar sebagai alat transportasi, namun juga
sebuah karya seni. “Kita bisa mengekspresikan diri melalui tiap detail
modifikasi, pokoknya serulah,” ucap Aji yang juga kerap ikut lomba
kreasi sepeda low rider. Menurut dia, keikutsertaan dalam kontes-kontes
tersebut merangsang ia dan kawan-kawannya berpikir keras membuat kreasi
terbaru.
Salah satu sepeda low rider milik Aji
yang berjenis chopper, dipasangi roda berukuran sangat besar yang biasa
digunakan mobil arena balap hingga membuat bentuknya menjadi unik. Aji
sendiri memiliki belasan sepeda low rider dengan biaya modifikasi mulai
dari Rp 2 juta hingga puluhan juta rupiah. Modifikasi itu tak jarang
butuh merogoh kocek dalam-dalam, namun itu bukan masalah dibandingkan
dengan kesenangan proses merakit sepeda idaman.
“Modifikasinya memang bisa macam-macam.
Ada yang menghias bondo (tangki)-nya pakai airbrush, setangnya dibuat
melingkar (twist), bahkan ada yang jari-jarinya dilapisi emas hingga 18
karat (gold plate)! Tapi bisa juga dibuat lebih murah dengan merakit
sendiri,” ujar Joey.
Kegemaran sepeda gaya ini ternyata
dijadikan pula sebagai salah satu kampanye pengurangan jumlah kendaraan
bermotor. “Saya ada kendaraan lain, tapi kadang lebih enak pakai sepeda.
Hemat energi dan ramah lingkungan,” kata Joey. “Ke depannya semoga
komunitas low rider bisa lebih solid menjalin kebersamaan dan ikut
mempromosikan gaya hidup sebagai environmentalist,” ujar Aji menuturkan
harapannya. So, let’s roll the bike and rock the street! ***
dewi irma
kampus_pr@yahoo.com
————————————————————————————————
02. 80% Fesyen, 20% Fungsi
JAKARTA adalah kota yang
sangat sensitif terhadap tren kultur fesyen terbaru. Dari mulai antre
untuk donat sampai kopi yang dihargai terlalu mahal, warga Ibu Kota
menunjukkan antusiasme mereka mengenal berbagai ‘artifak’ kultur.
Yang terbaru, ada sepeda lowrider. Tidak seperti sepeda pada umumnya, lowrider memiliki ukuran lebih kecil, hampir setinggi sepeda anak-anak, dan kaya modifikasi.
Ceritanya berawal di AS. Lowrider
menjadi budaya kaum urban. Pengikut utamanya terutama kaum Hispanik
yang tidak mampu memodifikasi mobil atau motor sehingga akhirnya mereka
mencoba memodifikasi sepeda. Kultur modifikasi mobil di kalangan
keturunan Hispanik sebenarnya juga cukup kuat.
Di Jakarta, setiap Sabtu malam di salah satu sudut Taman Menteng yang bersebelahan dengan Hotel Formula 1, sepeda lowrider tampak menjadi salah satu aktivitas kaum urban Jakarta. Bukan hanya Los Angeles.
“Di Amerika, tadinya ini sepeda mini
untuk anak-anak, terus dimodifikasi dan berkembang hingga saat ini. Dan
sampailah ke Indonesia. Kebanyakan yang masuk Indonesia itu buatan
Jepang, tetapi ada juga yang dari Amerika dan Inggris,” kata Gandung.
Gandung yang sehari-harinya berprofesi sebagai desainer grafis itu adalah salah seorang pencetus komunitas sepeda lowrider dengan nama Sunset Riders.
Komunitas itulah yang setiap Sabtu malam
berkumpul di pojok Taman Menteng. Pada sebuah Sabtu malam, seusai
pertunjukan pantomim dari salah satu pusat kebudayaan asing di Jakarta,
deretan sepeda ‘mini’ yang diparkir itu pun menarik perhatian kerumunan.
Sepeda-sepeda itu jadi objek jepretan kamera digital.
Sunset Riders baru
muncul sekitar akhir 2004. “Kini, anggotanya 30-an orang. Tadinya kami
hanya punya anggota tiga orang, jalan bareng, terus ngobrol dengan yang lain akhirnya pengen bikin sepeda juga, ketemu orang lagi yang punya sepeda, terus ngumpul. Tadinya kami ngumpul
di Taman Suropati terus pindah ke Taman Menteng. Karena sepeda ini
tidak bisa dibawa jalan jauh, jadi kumpulnya cuma di daerah kami saja.
Yang di selatan ngumpul di daerah selatan dan seterusnya,” kata Gandung.
Pusat perhatian
Penggemarnya pun datang dari beragam
latar, anak sekolah sampai eksekutif muda. Ini berbeda dengan negara
asalnya yang menjadikan sepeda lowrider sebagai subkultur antikemapanan.
“Karena bisa dibilang sepeda ini tidak
murah. Untuk modifikasi satu sepeda ini minimal punya uang Rp2 juta.
Kita beli per satuan mulai dari batangannya, ban, pelek, terus finishing-nya dikrom. Itu kan mahal, bisa sampai Rp4 juta. Catnya saja ada yang sampai Rp2 juta,” jelas Gandung.
Lowrider sebenarnya bukan kendaraan nyaman. Justru jauh dari
nyaman. Namun, Gandung mengaku ada nilai lain yang membuat memakai
sepeda ini tetap terasa nyaman. “Kenyamanannya malah dari orang yang
melihat sepeda kami, kalau dilihat orang kemudian dinilai bagus, itulah
yang bikin kita nyaman,” katanya.
Jadi, sebagian lain memang urusan citra
dan pencitraan. Penggunanya akan merasa bangga jika mengendarai sepeda
ini. Karena bentuk sepedanya unik membuat pengendaranya menjadi pusat
perhatian. “Saya bilang ini 80% fesyen, 20% fungsi,” kata Gandung.
Kontes sepeda ini pun didasarkan pada
sisi estetika, bukan dari ketangkasan. Untuk sepeda yang bergaya klasik
orisinal, dilihat dari fork depan, sadel, setang dan rangkanya yang
kecil menyerupai sepeda untuk anak. Yang custom, bentuknya menyerupai motor Harley atau biasa disebut chopper dengan rangka yang panjang dan setang tinggi.
Gandung sendiri mengawali kecintaannya pada sepeda lowrider lewat kanal MTV. Ada sebuah video musik hip hop yang menampilkan sepeda lowrider.
“Dari yang tadinya saya niat pengen bikin sendiri, berburu sampai punya sepeda, prosesnya cukup lama. Dari pertama nonton sampai punya, kira-kira dua tahunan,” kata Gandung.
Untuk membangun sebuah sepeda diawali
dengan rangka. Inilah yang membuat Gandung kesulitan sampai harus
mencari ke daerah-daerah terpencil di Jakarta. “Awalnya tidak tahu harus
cari ke mana, kita melihat batangannya seperti sepeda jaman dulu, terus
kita hunting. Untuk mendapatkan batangannya, kita sampai harus ngejar
anak kecil dan tukang es batu karena dia pakai sepeda yang punya
batangan asli,” ungkapnya. Tapi sekarang impor aksesori dan batangan
sepeda sudah relatif lebih mudah ditemukan.
Yanto, seorang modifikator lowrider,
mengatakan untuk modifikasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Modalnya tergantung dari variasi, paling rendah Rp4 juta-Rp5 jutaan.
Bisa Rp10 jutaan untuk ikut kontes, yang mahal itu aksesorinya,”
ujarnya.
Selama ini Yanto sudah membuat sekitar 30
sepeda modifikasi. “Kalau dari pengerjaan, kami memiliki kepuasan
tersendiri. Kami kerjakan sendiri, kami pakai sendiri. Jadi, tidak
seperti sepeda yang beli di toko bisa langsung dipakai,” katanya. *
————————————————————————————————
03. UrbanFest 2008: Memburu Sepeda Antik
Jumat, 27 Juni 2008 | 00:06 WIB
JAKARTA, KAMIS – Sepeda ceper dan unik itu, Rabu (25/6) siang, tersandar di dinding sebuah kafe di Ancol, Jakarta. Ia bagai magnit.
Bayangkan, puluhan pasang mata
memelototinya, berlama-lama. Walaupun ada sejumlah perempuan rancak,
dengan dandanan serba unik di kafe tersebut, penampilan sepeda tersebut
membuat tetamu kafe lebih tergoda.
Tinggi sepeda bercat biru dan cokelat itu
hanya sebatas lutut. Namun, stangnya yang terbuat dari baja berpilin
antikarat setinggi pinggang. Tempat duduknya bewarna putih agak panjang,
dengan roda serep di belakang. Ada pula dua boneka dadu bebas
menggelantung. Penampilan sekilas bagai motor besar.
Sebuah pelariankah? Karena tak mampu beli
motor besar lalu mengutak-atik sepeda seperti motor besar? Pertanyaan
itu sempat terlontar di acara Konferensi Pers UrbanFest 2008, Rabu lalu.
Namun, Gandung, salah seorang penggemar sepeda unik itu menjawabnya dengan enteng, “Malah ada pemilik sepeda unik atau low rider ini yang memiliki motor HD”.
Sepeda ceper yang mencuri perhatian banyak orang itu, sering disebut sebagai sepeda alternatif, sepeda modifikasi, dan atau low rider.
Sepeda unik tersebut menjadi salah satu materi kegiatan yang
dikompetisikan dalam pagelaran budaya UrbanFest 2008, yang berlangsung
28-29 Juni di Pantai Carnaval Ancol.
Ketua Panita Penyelenggara UrbanFest 2008, Nugroho Ferry Yudho mengatakan, kompetisi lowrider yang bertajuk Urban Lowrider Contest meliputi
enam kategori, yaitu kelas original/restorasi ke di bawah 20 persen
(mengalami modifikasi ke arah originalnya/bentuk aslinya), kelas custom modification kecil dari 20 persen (mengalami modifikasi custom), kelas original dengan restorasi di besar dari 20 persen, kelas custom modification besar dari 20 persen. Kemudian ada kelas free for all (best of the best) dengan sepeda lowrider ukuran bebas dan kelas chopper bike dengan modifikasi bebas.
“Display sepeda juga bisa
menentukan. Karena itu, posisi sepeda sangat dianjurkan ditata dengan
baik dan menarik. Karena akan menambah penampilan total keseluruhan akan
menarik ditonton, difoto, dinilai oleh pengunjung dan juru,” kata
Nugroho.
Tentang sepeda lowrider ini, Gandung yang merupakan salah seorang dedengkot sepeda lowrider mengatakan, penyuka lowrider ini
paling banyak di Jakarta. Ada komunitasnya, apakah itu di Jakarta
Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan wilayah lainnya.
“Kominitas sepeda lowrider ini setiap malam Minggu berkumpul di Taman Menteng, untuk diskusi dan saling tukar informasi. Kemudian, setelah bus way tidak dioperasikan lagi, penggemar sepeda lowrider keliling kota di jalur bus way mulai dari Taman Menteng, Bundaran HI, dan Monas,” paparnya.
Menurut Gandung, ada lebih 100 orang penyuka sepeda low rider. Setiap anggota komunitas mempunyai 2-4 sepeda lowrider. Sedangkan yang ikut kontes sepeda lowrider sedikitnya 50 sepeda. Masing-masing punya keunikan dan daya tarik tersendiri.
Keberadan komunitas sepeda lowrider ini,
lanjut Gandung, sudah ada sejak 2004. Para penggemar kadang berburu
sepeda mini antik jika berada di suatu daerah. Bahkan, jika ketemu di
jalan, langsung ditawar. “Umumnya sepeda lowrider jenis sepeda mini
keluaran tahun 1970-an. Sebab, kalau sepeda tipe keluaran sekarang, tak
bisa dibentuk jadi sepeda lowrider. Batangan sepeda sekarang tidak
kuat,” tandasnya.
” Untuk modifikasi sedikitnya menghabiskan dana Rp2 juta. Sepeda lowrider umumnya, 80 persen fungsinya sudah berubah. Lebih banyak sepeda unik ini untuk pajangan saja. Ada banyak sepeda lowrider yang dibeli orang lain yang berminat, ada juga yang dipakai untuk pembuatan iklan fashion,” tambah Gandung.
Kontes lowrider ini merupakan
satu dari 21 jenis kegiatan di UrbanFest 2008 yang digelar secara
kolaborasi oleh Kompas-Gramedia, Ancol, Radio Prambors, Institut
Kesenian Jakarta, dan MetroTV. (YURNALDI)
————————————————————————————————
04. SEPEDA LOW RIDER
Si Kontet yang Makin Dicari
Punya bentuk unik dan makin dicari.
Ada dua pilihan mendapatkannya. Gerilya bagian satu per satu, atau
membelinya utuh. Tetapi, kendala mengendarai justru menjadi halangan
utama. Kenalan yuk sama sepeda “low rider”.
Sepeda itu lebih cocok dipakai anak kecil
dibandingkan orang dewasa. Ukurannya mungil dan berbentuk enggak
seperti sepeda biasa. Tampilannya semarak. Rangkanya dicat meriah,
bahkan ada yang di-chrome dengan finishing perak mengilat, atau emas
yang kinclong.
Setang sepedanya pun dibikin ala motor
gede, dengan style choopper (itu lho setang motor yang tegak ke atas
hingga kala mengendarainya posisi tangan hampir tegak lurus ke atas).
Bahan untuk membuat setang sepedanya pun bukan dari besi biasa. Rantai
kapal, sampai besi tempa untuk bahan dasar pagar rumah bisa dijadikan
aksesori sepeda.
Semua sepeda “ajaib” itu terjejer rapi di
halaman rumah Beri, di kawasan Pondok Indah. Siang itu bareng seorang
kawannya, Rezi, keduanya lagi asyik berdiskusi tentang keempat sepeda
yang mereka bangun sendiri.
“Gue sih sudah lama banget pengin punya
sepeda kayak gini,” beber Beri. Maklum sepeda yang kental dengan gaya
hidup orang kulit hitam di Amrik itu punya bentuk yang seru.
“Biasanya sepeda jenis ini yang memakai anak geng kulit bewarna di Amerika,” jelas Rezi.
Tren yang sudah ada dari zaman dulu itu
makin naik seiring dengan seringnya video klip yang kental nuansa hip
hop atau punk-nya diputer di televisi. Macam video klip Anthem-nya Good
Charlote, atau malah Muka Tebal-nya Superman Is Dead. Enggak heran kalau
sepeda seperti ini selalu dikaitkan dengan komunitas kulit berwarna di
Amerika.
Sayangnya, buat memiliki sepeda ini
susahnya minta ampun. Enggak ada satu toko sepeda pun di Indonesia yang
menjual sepeda jenis ini. “Waktu gue lagi di Amerika, gue enggak
menemukan toko yang menjual sepeda seperti ini,” ungkap Beri.
Sesampainya di Indonesia, Beri juga harus
mengubur mimpinya dalam-dalam. Tapi, niatnya itu terwujud ketika tiga
bulan lalu seorang kawan menawarkan sebuah rangka sepeda zaman dulu.
“Gue pikir bisa nih dijadiin sepeda low rider (sebutan karib si sepeda
kontet),” cetusnya lagi.
Mulai deh hari dan kehidupannya (duh
segitunya) dihabiskan untuk memenuhi impiannya sejak dulu. Aksesori
tambahan yang enggak dijual di Indonesia dibikin secara prakarya
olehnya. “Setangnya gue pakai rantai kapal. Gue las listrik dulu, baru
gue finishing chrome,” tukas Beri lagi. Sekitar empat minggu dia
habiskan waktu untuk membangun sepeda impiannya. “Kalau sudah tahu apa
yang kita mau, pasti gampang sih. Soalnya sudah kebayang inginnya
seperti apa,” tambah Beri.
Order
Bak seniman yang habis menyelesaikan
karyanya. Beri pun melakukan “pameran” kecil-kecilan. Apalagi kalau
bukan mengendarai sepeda kontetnya keliling daerah rumahnya. Ternyata
ada yang melihat aksinya keliling kompleks. Sesampainya di rumah,
beberapa kawannya menelepon dan meminta dibuatkan sepeda seperti
miliknya. “Mulai deh gue kebanjiran order buat bikin sepeda seperti
ini,” kenang Beri.
Toh order yang datang kepada dirinya
enggak bisa begitu saja dikerjakan. “Banyak yang datang ke gue, tapi
belum tau mau dibikin apa sepedanya. Gue kasih masukan pasti ada saja
yang kurang. Utamanya sih masalah dana,” tukasnya cuek. “Tapi, berhubung
yang datang ke gue teman-teman gue juga, enggak mungkin gue tolak,”
akunya lagi.
Kalau kita tertarik, sebenarnya ada dua
cara yang bisa kita lakukan untuk mengoleksi si kontet ini. Pertama,
cara gerilya macam yang dilakukan Beri. Hunting satu per satu sampai
semua parts lengkap.
“Gue beli semuanya satu per satu.
Rangkanya gue hunting sendiri,” ungkapnya. Maklum rangka sepeda low
rider biasanya menggunakan “bangkai” sepeda kuno. Tahu sendiri dong
barangnya enggak mungkin dicari di toko sepeda. “Kalau yang lain sih
gampang. Ban sama velg biasanya masih ada yang jual,” ujarnya lagi.
Cara kedua, cara instan seperti yang
dilakukan Rezi. Alih-alih hunting ke tukang loak, nih cowok langsung
membeli di negara pusatnya sepeda low rider, Amerika. “Kebetulan pas gue
ke sana dan ada uang sisa ya sudah gue beli aja yang sudah jadi,” jelas
cowok yang hobi memakai kacamata ini.
Maklum, di Amerika pasar sepeda seperti
ini sudah jelas. Jadi, toko yang menjual sepeda utuh dan aksesorinya
juga bejibun. “Gue beli utuh mereknya Low Rider sekitar 300-an dollar,”
ungkap Rezi.
Capek
Lambat laun komunitas—yang lebih suka
disebut Beri sebagai habitat—mulai terbentuk. Dari hanya sendirian, kini
Beri punya sekitar lima orang teman untuk diajaknya berkeliling dengan
si kontet.
Toh dari semua keasyikan membangun si
kontet, ada satu kendala yang enggak Beri suka. Berhubung sepeda ini
didesain sangat pendek, mau enggak mau mengayuh pedalnya memang agak
ribet. “Kalau sudah ketemu tanjakan malas banget rasanya. Jadi, gue
enggak pernah main jauh-jauh. Paling sekitaran rumah,” tukas Beri.
“Soalnya, kalau di Amerika sendiri, nih
sepeda memang bukan didesain untuk dikayuh, melainkan didayung
menggunakan kaki. Karena negro-negro di Amerika menggunakan sepeda ini
hanya di seputaran blok rumah mereka,” tambah Rezi lagi.
Selain Beri, masih ada beberapa kelompok
lain yang hobi mendandani sepeda low rider seperti ini. “Biasanya mereka
nongkrong di Circle K Jalan KH Ahmad Dahlan. Mereka serius bener.
Soalnya sepeda itu memang dipakai jalan,” jelas Beri.
Atau malah di Bandung. Komunitas
streetball yang ada di sana cukup akrab dengan komunitas sepeda low
rider. “Biasanya kami ngumpulnya setiap hari Rabu malam. Gabung sama
anak-anak break dance dan streetball,” beber Insane dedengkot streetball
dari tim Future asal Bandung.
Dengan bentuknya yang unik, sepeda
seperti ini memang asyik untuk dikoleksi. Tinggal pilih caranya, mau
yang instan apa yang gerilya? Pilihan ada di tangan kita.
ADHITYASWARA NUSWANDANA Tim MUDA
————————————————————————————————
05. SEPEDA LOWRIDER, TAK SEKADAR LIFE STYLE
(09 Mar 2008, 292 x)
SATU lagi tren sepeda baru merambah
kawula muda di Makassar. Apa itu? Yup, apa lagi kalau bukan lowrider,
salah satu jenis sepeda dengan model unik. Begitu berbeda dengan
model-model sepeda sebelumnya yang sempat booming, beberapa tahun
belakangan.
Lowrider jauh dari kesan modern dan
sporty. Sepeda jenis ini justru lebih mirip sepeda tradisional onthel,
namun terlihat lebih elegan. Meski modelnya agak konvensional, namun
jenis sepeda yang satu ini ternyata lumayan digandrungi kalangan anak
muda loh.
Beberapa remaja di Makassar yang sudah
memiliki lowrider mengaku tidak risih menggunakan lowrider di tengah
semakin metropolitannya Kota Makassar. Sebaliknya, lowrider justru
dianggap sebagai suatu life style baru yang punya banyak manfaat.
Awi, misalnya. Cowok yang memiliki model
rambur agak gondrong mengatakan, kehadiran lowrider memberi tawaran
bersepeda yang tidak lagi sekadar untuk berolahraga dan mejeng di jalan.
“Dengan memakai lowrider, termasuk sebagai kendaraan hang out atau pun
untuk ke tempat kerja, saya merasa mendapatkan tambahan rasa percaya
diri. Soalnya, kita merasa beda aja gitu sama yang lain. Lowrider lebih
berkarakter,” ujar Awi, Jumat, 7 Maret.
Tak jauh berbeda dengan Izul, seorang
penggemar lowrider. Ia mengaku sudah cinta mati dengan jenis sepeda itu.
Izul bahkan punya keinginan agar para pecinta lowrider menjamur di
Makassar, dan bisa segera punya komunitas. “Kalau sudah ada komunitas,
demam lowrider pasti akan lebih mewabah lagi,” ucap Izul.
Yang tak kalah penting, katanya, kita
bisa bergaya namun juga tetap bersahabat dengan lingkungan. Seperti yang
dituturkan Izul, jika lowrider sudah banyak diminati, banyak manfaat
yang bisa dipetik. “Yang pasti, tingkat polusi di kota ini pasti bisa
ditekan. Paling tidak, para anak muda seperti kita ini bisa sedikit
berperan memperlambat global warming,” tuturnya.
Saat ini, lowrider memang belum terlalu
booming di Kota Daeng. Masih kalah dibanding Jakarta dan Bandung.
Menurut Awi, di dua kota tersebut, lowrider sudah benar-benar digilai,
khususnya bagi mereka yang masih berusia remaja.
Namun, bagi mereka yang penasaran dengan
sepeda ini, di beberapa toko sepeda di Makassar, lowrider sudah bisa
ditemui loh. Hanya saja, harganya memang lumayan bisa bikin kantong
menipis. Lowrider dilepas ke pasaran dengan harga minimal Rp2 juta.
(imam dzulkifli)